‘Bu Mentri Kena Kanker Paru ?

WAJAH Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih tampak tak secerah biasanya. Padahal hari itu sejak pagi hingga siang menjadi tuan rumah acara peringatan Hari Gizi Nasional di Auditorium Gerrit Siwabessy Kantor Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta. “Saya sehat saja. Sekarang terkontrol dan terkendali,” katanya saat dicegat Tempo seusai acara tersebut, Selasa pekan lalu.

Menurut sumber yang dekat dengan Menteri Endang, dia baru saja menjalani terapi. Selain kemo di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta, Endang melakukan terapi herbal yang disuntikkan lewat infus di klinik cabang rumah sakit khusus kanker Guangzhou, Cina, di Jakarta Selatan. “Masih stadium dua, kok,” kata si sumber menepis isu yang menyebut penyakit kanker paru Endang sudah masuk stadium IV alias yang tertinggi.

Endang baru mengetahui penyakitnya saat melakukan pemeriksaan rutin pejabat negara pada 22 Oktober 2010, tepat setahun menjabat Menteri Kesehatan. “Saya kaget juga. Benar-benar tidak ada gejala apa pun,” katanya. Namun Endang tidak panik, karena penyakitnya ini dirasakan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. “Saya masih berenang dua kali seminggu, masih naik-turun tangga, rapat, dan bertemu dengan wartawan,” ujarnya pada acara jumpa pers di kantornya pertengahan Januari lalu.

Kabar kondisi kesehatan Endang memang mengagetkan. Sebab, selama ini Bu Menteri menjalankan gaya hidup sehat, seperti rajin berolahraga dan tidak merokok. Menurut dokter spesialis penyakit dalam, konsultan dan spesialis paru Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Muhammad Harun Iskandar, sekitar 90 persen penderita kanker paru adalah perokok, hanya 10 persen bukan perokok atau perokok pasif. Berdasarkan data Cancer Journal for Clinicians, di Asia perempuan bukan perokok yang terkena kanker paru mencapai 60-80 persen. “Penyebab pada nonsmoker tidak jelas, mungkin karena penderita perokok pasif,” kata dokter spesialis penyakit dalam serta konsultan paru dan asma Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, Prayudi Santoso.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menderita kanker paru meski bukan perokok. Faktor yang paling sering ditemukan adalah jika orang terdekat atau lingkungan sekitar perokok aktif. “Kebanyakan pasien nonsmoker adalah wanita yang suaminya perokok aktif,” kata dokter Harun. Penyebab lainnya antara lain polusi udara, radiasi, asbes, arsenik, kroma, radon (jenis gas radioaktif), infeksi virus, dan variasi genetik. “Walaupun penderita tidak merokok dan rajin berolahraga, jika variasi genetiknya sangat rentan terhadap asap, sedikit asap, tubuhnya sudah tidak bisa menerima,” ujar dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, itu. Namun masih belum bisa dipastikan kanker paru Endang terpapar asap rokok orang lain atau karena zat-zat saat bekerja sebagai peneliti utama setelah menjabat Direktur Pusat Penelitian Biomedik dan Farmasi dan Pengembangan Program pada 2007.

 

Stadium Ikut Menentukan Jenis Pengobatan Pasien

 

Kanker paru merupakan jenis yang cukup banyak menelan korban jiwa. Setiap tahun terdapat lebih dari 1,3 juta kasus kanker paru di seluruh dunia dengan angka kematian 1,1 juta jiwa. Rumah sakit rujukan penyakit tropis, Wahidin Sudirohusodo, Makassar, setiap tahun menerima 200 lebih penderita penyakit yang mematikan ini. “Penyakit ini menempati urutan pertama pada kanker mematikan, setelah penyakit infeksi paru-paru,” ujar Harun. Kanker paru, berdasarkan jenisnya, dibagi atas kanker paru sel kecil dan bukan sel kecil. Paling sering ditemukan sekitar 80 persen adalah tipe bukan sel kecil. Kanker paru sel kecil lebih jarang ditemukan tapi lebih ganas dan pengobatannya hanya bisa dengan kemoterapi serta radiasi.

Kasus kanker paru sel kecil ini lebih cepat menyebar dan mematikan. Di bagian penyakit dalam RS Hasan Sadikin, Bandung, ataupun di Makassar, kebanyakan pasien kanker paru datang pada stadium lanjut. “Paling sering mendapati sudah ada cairan di parunya,” kata dokter di bagian ilmu penyakit dalam subbagian paru itu. Artinya, sudah ada penjalaran kanker ke selaput paru, yang lebih sering disebut   paru-paru basah.

Berdasarkan ukuran stadium terbaru yang dibakukan pada 2010, gejala ini masuk stadium empat dan membuat sesak napas pasien. Pada kasus orang tua, gejala itu kemungkinan besar kanker paru. Tapi, pada golongan usia muda, boleh jadi ini tanda terkena tuberkulosis. Untuk membedakannya, dokter memeriksa cairan paru pasien di bawah mikroskop, juga dengan pemeriksaan patologi anatomi.

Pemeriksaan pun untuk memastikan sumber cairan. Sebab, pencetusnya bisa jadi bukan kanker, melainkan karena ada kelainan jantung kiri-kanan, lever, ginjal, atau kadar albumin rendah pada orang bergizi buruk. Pada beberapa kasus pasien, cairan di paru berasal dari tumor payudara. Ketika seseorang sudah didiagnosis terkena kanker paru, dokter selanjutnya akan menentukan stadiumnya. Pembagian stadium berdasarkan ukuran tumor dan  penjalarannya, misalnya, apakah sudah sampai ke kelenjar getah bening atau ke organ lain. Penentuan stadium ikut menentukan jenis pengobatan pasien, mulai operasi pembuangan tumor pada stadium I dan II, kemoterapi, radiasi, atau terapi terarah (targeted therapy) pada stadium III serta IV. Ada pasien kanker stadium empat yang tak tertolong nyawanya karena mengalami sesak napas. Bukan akut, melainkan pelan-pelan, lalu terjadi gagal napas, kemudian meninggal.

Untuk menghilangkan sesak itu, dokter menguras isi cairan di paru, bekasnya dilengketkan ke selaput paru. Tujuannya agar produksi cairan oleh sel-sel kanker berkurang. Normalnya, cairan di atas rongga selaput paru hanya terisi 10-15 sentimeter kubik. Tapi pada beberapa kasus, dokter bisa menguras hingga 2-3 liter cairan dari sel kanker. Setelah itu, karena kanker belum bisa disembuhkan, dokter akan memberikan kemoterapi atau menyarankan bedah ortopedi jika kanker paru telah menjalar ke bagian tulang belakang. Karena 90 persen penderita kanker paru akibat merokok, pencegahannya, menurut dokter Harun ataupun Prayudi, dengan cara tidak atau menghentikan kebiasaan merokok. Yang tetap merokok hendaknya tidak merokok di tempat umum atau tempat tertutup karena membahayakan kesehatan orang lain.

Asap rokok membutuhkan 4-6 jam untuk hilang dalam ruang tertutup, seperti ruang yang ber-AC. “Selain itu, perbanyak konsumsi buah dan olahraga. Semakin cepat terpapar asap, semakin muda usia dapat terkena kanker paru,” kata dokter Harun. Walau sudah divonis menderita kanker paru, Menteri Endang tetap bertekad meneruskan kampanye gaya hidup sehat yang dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Di seluruh area lingkungan kantor Kementerian Kesehatan dilarang merokok. “Saya enggak pernah terpikir mundur. Jenderal Sudirman saja hanya dengan organ sebelah masih bisa memimpin perang,” katanya.   ( Mjl -Tmp)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s