Ade Rachmawati Raih Adinegoro

Presiden SBY saat bertemu dengan Ketua Umum PWI Pusat, H Margiono

Jakarta (PWI News) – Burung Unik yang Terancam Punah, buah pena Ade Rachmawati Dev

i dari Koran Jakarta meraih Anugerah Adinegoro 2010 yaitu penghargaan jurnalistik tertinggi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk kategori karya jurnalistik cetak dalam bentul laporan berkedalaman.

Laporan jurnali

stik yang mengangkat topik tentang burung khas Sulawesi, Maleo tersebut disiarkan oleh Koran Jakarta pada edisi 9 April 2010, dinilai memiliki dimensi ideologis yang berbasis pada keragaman di Indonesia.

“Tulisan ini mengeksplorasi keanekaragaman flora dan fauna Indonesia untuk memaparkan perekat sosial suku-suku yang cenderung konflik,” kata Imam Prasodjo, salah seorang juri.

Sidang dewan juri yang terdiri atas Tribuana Said (jurnalis), Imam Prasodjo (sosiolog) dan Felicia D.Utorodewo (akademisi) pada Jumat 4 Februari 2011 di kantor PWI Pusat di Jakarta sepakat memilih tulisan tersebut untuk mendapat penghargaan jurnalistik mengungguli 59 karya lain yang lolos seleksi untuk penilaia

n.

Sebagai pemenang Anugerah Adinegoro 2010, Ade Rachmawati Devi berhak mendapatkan tropi, piagam dan uang senilai Rp50.000,000,-

Penghargaan jurnalistik Anugerah Adinegoro hanya diberikan bagi satu pemenang untuk setiap kategori.

Sebagai pakar bahasa, Felicia mengemukakan bahwa karya tulis “Burung Unik yang Terancam P

 

unah” menggunakan bahasa yang bagus dan mengalir sehingga maknanya mudah dipahami serta disampaikan secara terstruktur sesuai kebutuhan laporan jurnalistik.
Tribuana Said mengatakan bahwa pers Indonesia ideal jika mampu mewujudkan kebijaksanaan nasional dalam tulisan.
Pemenang Adinegoro kategori cetak tersebut dinilai mengangkat tema lokal dan global, yaitu

masalah pelestarian lingkungan yang dalam saat ini menjadi agenda penting di seluruh dunia.
“ Kebetulan pemenangnya adalah orang muda dan perempuan, sehingga kemenangan ini bisa menjadi penghargaan khusus untuk memotivasi para wartawan muda yang lain,” kata Imam Prasodjo.
Pada hari yang sama, dewan juri untuk kategori jurnalistik televisi yaitu Arswendo Atmowiloto (penulis/praktisi media), Azkarmin Zaini (praktisi media televisi) dan Erna Tobing (praktisi jurnalistik televisi) menetapkan Serba Terbatas di Perbatasan yang disiarkan oleh televisi Trans 7 sebagai peraih Anugerah Adinegoro.
Menurut Arswendo, karya tersebut secara sosial memberi gambaran tentang kehidupan di daerah perbatasan di Kalimantan dengan negeri tetangga. Penggambaran laporan dipaparkan dengan lengkap, suasana sekolah yang serba terbatas, serta dibandingkan dengan suasana sekolah di negeri jiran yang memiliki fasilitas lebih baik.

Gambaran laporan dengan mewawancarai murid sekolah, masyarakat dalam hal ini para orang tua serta guru sudah cukup kuat.

Juri lainnya, Erna Tobing, menilai materi Serba Terbatas di Perbatasan membawa pesan yang kuat untuk menggugah rasa kebangsaan. Tingkat kesulitan dala

m pengambilan gambar cukup tinggi karena ada tantangan alam yaitu kru dan reporter harus berperahu, meniti jembatan gantung dari kayu dan berjalan kaki menembus jalan hutan yang sulit untuk menuju ke daerah perbatasan yang terpencil.

Menurut Azkarmin Zaini, laporan tersebut menyampaikan pesan secara utuh walau dalam waktu singkat tetapi bisa mengungkapkan problematik sosial di kawasan perbatasan.
Panitia Anugerah Adinegoro 2010 menyediakan hadiah sebesar Rp50.000.000,- bagi peraih Anugerah Adinegoro serta trofi yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2011 pada tanggal 9 Februari di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Anugerah Ad

 

inegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam enam kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News),  Tajuk Rencana/Opini, Foto Jurnalistik, Karikatur Opini, Jurnalistik Radio dan Jurnalistik Televisi, masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah masing-masing kategori Rp50 juta.

Selain itu diberikan juga penghargaan khusus berupa jurnalistik inovasi untuk kategori siaran berita melalui media on line  (cyber journalism) serta berita infotainment masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah Rp10.000.000,-

Sebelumnya panitia telah mengumumkan pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro untuk kategori foto  atas Foto jurnalistik berjudul EVAKUASI MERAPI karya Susanto (Media Indonesia), karya jurnalistik karikatur berjudul “Pajak   Warteg” karya Gatot Eko (Suara Pembaharuan), kategori Radio untuk karya  M. Taufik Budi Wijaya berjudul  “Suap di Penjara” (KBR 68 H), Tajuk Rencana “menata Kembali Indonesia”jurnalisme inovasi kategori infotainment karya Telni Rusmitantri berjudul “Babak Baru Bambang – Mayang “ (Cek & Ricek).

Penghargaan Anugerah Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional,  dan pada tahun ini ditetapkan untuk tema bebas.

Nama Anugerah Adinegoro mengabadikan nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro, (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967) yang semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun 1931 serta menjadi pemimpin redaksi  Pandji Poestaka dan kemudian pemimpin redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda, Aneta yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA), dan pada 1962 Presiden Soekarno meleburnya ke Kantor Berita ANTARA. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s