Kekerasan Terhadap Wartawan Marak

JAKARTA (Suara Karya): Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mencatat, tindak  Kekerasan terhadap wartawan, baik fisik maupun nonfisik, mencapai 22 kasus  selama tahun ini.

Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana (tengah)

“Selama kurun waktu dua bulan terakhir, yakni Januari-Februari 2011, tercatat 22 kasus kekerasan yang telah menimpa para wartawan,” kata Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana di Jakarta, kemarin.

Jumlah itu, tutur dia, diprediksi mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010 yang mencapai 66 kasus. “Baru dua bulan saja, kasus kekerasan terhadap wartawan sudah mencapai 22 kasus. Apalagi, hingga akhir tahun 2011 nanti, nampaknya akan terus bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, LBH Pers mendesak aparat keamanan mengusut dan menangkap pelaku penusukan terhadap wartawan Viva News, Banjir Ambarita, pada Kamis dini hari di Kota Jayapura, Papua.

“Aparat harus menyelidiki siapa pelaku penusukan itu. Jangan sampai, permasalahan ini dibiarkan begitu saja,” katanya.

Menurut dia, adanya kasus kekerasan yang sering menimpa jurnalis menunjukan kepolisian tidak serius dalam menangani kasus kekerasan terhadap insan pers itu.

“Banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tidak terungkap siapa pelakunya. Adanya ketidakseriusan dari aparat penegak hukum itu, maka terjadi impunitas. Para pelaku beranggapan kekerasan terhadap jurnalis merupakan hal biasa,” kata Hendarayana.

Polisi, ucap dia, ke depan harus bisa mengungkap para pelaku kekerasan terhadap jurnalis. Selama ini, banyak kasus yang tidak terungkap pelakunya.

Menanggapi tuntutan untuk terdakwa pelaku pembunuhan terhadap wartawan Sun TV Ridwan Salamun, Hendrayana mengatakan ada suatu kejanggalan. Jaksa dari Kejaksaan Negeri Tual, Maluku, di persidangan hanya menuntut delapan tahun penjara bagi terdakwa itu.

“Masa hukuman bagi terdakwa pelaku pembunuhan disamakan dengan terdakwa kasus pencurian. Ini kan aneh,” katanya seraya mengatakan, oleh karena itu pihaknya melakukan aksi unjuk rasa ke Mabes Polri dan Kejaksaan Agung.

Premanisme

 

Sebelumnya, LBH Pers mencatat 66 kasus kekerasan terhadap wartawan pada 2010. Kasus kekerasan sebanyak itu terdiri atas 37 kasus kekerasan fisik (pemukulan, pengeroyokan hingga pembunuhan) dan 29 kasus kekerasan non fisik (perampasan kamera, pelarangan peliputan, intimidasi dan acaman teror).

Kekerasan terhadap pers sering dilakukan preman, pihak kepolisian, aparat pemerintah, organisasi masyarakat, massa, aparat keamanan dan TNI. “Jumlah kekerasan yang dilakukan oleh preman terhadap wartawan paling tinggi, yakni 12 kasus. Oleh polisi 10 kasus, aparat pemerintah 10 kasus, ormas tujuh kasus, massa enam kasus, aparat keamanan enam kasus, sementara TNI hanya dua kasus,” kata Hendrayana.

Menurut dia, para preman yang seringkali melakukan kekerasan terhadap wartawan, ternyata disuruh oleh kepala daerah yang tidak berkenan diberitakan oleh media massa.

Upaya yang dilakukan oleh LBH Pers agar pers memiliki kebebasan pers dan berekspresi, antara lain melakukan sosialisasi dan desimininasi untuk menjadikan UU Pers sebagai landasan hukum bagi aparat penegak hukum dalam mengadili sengketa pers di pengadilan, berhasil mendorong Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No 13 Tahun 2008 tentang Meminta Keterangan Ahli dari Dewan Pers.

“Serta melakukan pemantauan atas sejumlah peraturan perundang-undangan yang dianggap berpotensi bersinggungan dengan kemerdekaan pers, seperti UU ITE,” katanya.         (Suarka/Joko S/Ant/Tri H/yopie)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s