Pointers diskusi “Liputan Konflik dan Traumatik”, PWI Pusat

( Oleh: Arswendo Atmowiloto)

(1) Wangsit dari langit. Pada zaman dahulu, sumber berita datang dari langit. Melalui wahyu, wangsit, sasmita, dan bersifat gaib, hanya bisa diterima dan ditafsirkan oleh beberapa tokoh terpilih. Penguasaan informasi berada pada kuasa raja dan atau pujangga.

Sekarang ini sumber berita tetap dari langit, melalui tehnologi satelit. Karena dinamika yang dimiliki satelit, kabar ini menyebar secara serentak. Bukan lagi monopoli raja dan para penafsirnya, melainkan pada masyarakat luas. Yang bisa memberi tafsiran tersendiri. Wartawan sebagai penyampai pesan, sebagai pembawa berita tak lagi sendirian. Peran dan posisinya ada bersama warga masyarakat lain. Mereka bisa saling kutip, saling membenarkan, atau saling berhadapan.

Informasi bukan hanya monopoli yang terpilih, melainkan juga yang terlatih.

(2) Kabar dari Penguasa, kabar dari Pengusaha. Dalam era Orde Baru,pemerintah atau pengusaha mengelola dan mengatur dengan sukses lalu lintas informasi dengan berbagai pembatasan. Baik jumlah media, jumlah halaman, jumlah iklan, keanggotaan menjadi wartawan termasuk pemecatan, sepenuhnya dikendalikan. Sehingga media dan itu berarti wartawan dari tingkat pemimpin redaksi sampai reporter dari direktur iklan sampai kolportir, meneruskan kabar dari penguasa. Yang membelok atau dianggap membengkok, kena breidel. Terjadilah konsentrasi kekuatan media “nggih”, media yang sendika dawuh para penguasa, yang bisa meneruskan hidupnya. Akibatnya konsentrasi ini memantapkan konglomerasi kepemilikan yang karena industri memerlukan modal besar, juga rasa aman. Kelompok inilah yang paling siap mengembangkan diri ketika era Reformasi bergulir. Baik secara utuh, atau mengembang-biakkan sendiri melalui tokoh-tokohnya yang menemukan pendana berbeda

Dua kepentingan ini, suara penguasa dan suara pengusaha, menjadi warna utama dalam kehidupan pers kita. Tidak selalu baik atau buruk, tapi untuk menjernihkan penglihatan kita melihat liputan termasuk  tajuk yang biasanya selalu sejuk, atau keterpihakan. Liputan tentang lumpur Lapindo, pengusutan bank Century, dan persoalan PSSI bukan persoalan persebak-bolaan, adalah contoh yang mudah terbaca atau terdengar dalam liputan penyampaian. Dalam bahasa infotainment, lebih mudah dimengerti mana yang memberitakan “mobil Halimah menabrak pagar rumah Mayangsari”, mana yang tidak, media mana yang mengulas dan menganggap bukan berita.

(3) Liputan Konflik dan Traumatik. Dalam liputan mengenai kasus-kasus karena bukan hanya sekali dua bernuansa SARA, sejauh saya tahu dan yang saya tahu tidak terlalu jauh, media tidak mempunyai konflik internal. Tidak ada kepentingan tertentu sampai ditemukan bukti bahwa pemilik media adalah pemilik atau pelindung massa yang berkonflik.

Tradisi pers Indonesia beruntung sekali memiliki tokoh besar yang memiliki visi dan integritas yang memberi inspirasi sehat. Tiga tokoh utama yang langsung atau tidak langsung memberikan teladan kewartawanan seperti Rosihan Anwar, Jakob Oetama dan Goenawan Mohammad dengan gaya yang berbeda, merupakan anugrah bagi dunia media kita. Dengan jurus “bebas dan bertanggung jawab”, bukan hanya membebaskan dari sandera amplop dan kehumasan, melainkan menemukan tanggung jawab untuk menjadi arif. Contoh sederhananya adalah liputan mengenai korban di Pandeglang, dengan tidak menampilkan visual, tidak membuatkan narasi akan apa yang bisa diperoleh di media sejenis You Tube. Pastilah bukan hanya ini, karena begitu banyak persoalan. Bahkan seleksi untuk jenis Surat Pembaca pun bisa menimbulkan heboh.

Dalam kerangka dasar inilah liputan konflik dan traumatik yang ditimbulkan, bisa diteruskan dengan berani, dengan bebas dan bertanggung jawab. Bahkan seharusnya lebih berani dan ini tidak meninggalkan asa dan asas jurnalistik menerang jelaskan kelompok atau pribadi yang menjadi korban dan membuat korban. Lebih berani dan lebih akurat dalam memberi kerangka besar atas peristiwa di beberapa tempat. Baik sebagai kejadian terpisah, tersambungkan, merupakan keunggulan media. Bukan hanya membebaskan traumatik yang ditimbulkan, melainkan dan sekaligus menyampaikan apa yang mungkin akan diberitakan.

Kalau ada yang lebih diperhatikan adalah pilihan bahasa antara “penyerbuan” dengan “bentrok”, atau jumlah korban yang tetap disampaikan, sementara cara korban meninggal bisa dirahasiakan. Penggunaan dan pilihan bahasa memang memperlihatkan sikap elit pejabat yang lebih suka “penyesuaian harga” dibandingkan “kenaikan harga” lebih memakai istilah “jaksa nakal atau hakim nakal” sementara pencuri motor disebutkan penjahat, anak muda yang berandalan naik motor langsung disebut geng, ada otaknya, ada dalang, sementara kelas pejabat disebut oknum tanpa aktor intelektual.

Namun itu tidak menghalangi untuk terus berseru that the way, it is. Justru ketika ada rasa ragu, malu, takut, memilih aman, liputan media bisa lebih berani, bebas, bertanggung jawab. Media  masih bisa tegak, masih berani berteriak, ketika instutusi lain tergeletak. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s